Kita lahir dengan dua mata di depan wajah kita, kerana kita tidak boleh selalu melihat ke belakang. Tapi pandanglah semua itu ke depan, pandanglah masa depan kita.
Kita dilahirkan dengan 2 buah telinga di kanan dan di kiri, supaya kita dapat mendengarkan semuanya dari dua buah sisi. Untuk berupaya mengumpulkan pujian dan kritikan dan memilih mana yang benar dan mana yang salah.
Kita lahir dengan otak di dalam tengkorak kepala kita. Sehingga tidak peduli semiskin mana pun kita, kita tetap kaya. Kerana tidak akan ada seorang pun yang dapat mencuri otak kita, fikiran kita dan idea kita. Dan apa yang anda fikirkan dalam otak anda jauh lebih berharga daripada emas dan perhiasan.
Kita lahir dengan 2 mata dan 2 telinga, tapi kita hanya diberi 1 buah mulut. Kerana mulut adalah senjata yang sangat tajam, mulut bisa menyakiti, bisa membunuh, bisa menggoda, dan banyak hal lainnya yang tidak menyenangkan. Sehingga ingatlah bicara sesedikit mungkin tapi lihat dan dengarlah sebanyak-banyaknya.
Kita lahir hanya dengan 1 hati jauh di dalam diri kita. Mengingatkan kita pada penghargaan dan pemberian cinta diharapkan berasal dari hati kita yang paling dalam. Belajar untuk mencintai dan menikmati betapa kita dicintai tapi jangan pernah mengharapkan orang lain untuk mencintai kita seperti kita mencintai dia.
Berilah cinta tanpa meminta balasan dan kita akan menemui cinta yang jauh lebih indah.
Jumat, 09 Mei 2008
sebuah nasihat
Kita lahir dengan dua mata di depan wajah kita, kerana kita tidak boleh selalu melihat ke belakang. Tapi pandanglah semua itu ke depan, pandanglah masa depan kita.
Kita dilahirkan dengan 2 buah telinga di kanan dan di kiri, supaya kita dapat mendengarkan semuanya dari dua buah sisi. Untuk berupaya mengumpulkan pujian dan kritikan dan memilih mana yang benar dan mana yang salah.
Kita lahir dengan otak di dalam tengkorak kepala kita. Sehingga tidak peduli semiskin mana pun kita, kita tetap kaya. Kerana tidak akan ada seorang pun yang dapat mencuri otak kita, fikiran kita dan idea kita. Dan apa yang anda fikirkan dalam otak anda jauh lebih berharga daripada emas dan perhiasan.
Kita lahir dengan 2 mata dan 2 telinga, tapi kita hanya diberi 1 buah mulut. Kerana mulut adalah senjata yang sangat tajam, mulut bisa menyakiti, bisa membunuh, bisa menggoda, dan banyak hal lainnya yang tidak menyenangkan. Sehingga ingatlah bicara sesedikit mungkin tapi lihat dan dengarlah sebanyak-banyaknya.
Kita lahir hanya dengan 1 hati jauh di dalam diri kita. Mengingatkan kita pada penghargaan dan pemberian cinta diharapkan berasal dari hati kita yang paling dalam. Belajar untuk mencintai dan menikmati betapa kita dicintai tapi jangan pernah mengharapkan orang lain untuk mencintai kita seperti kita mencintai dia.
Berilah cinta tanpa meminta balasan dan kita akan menemui cinta yang jauh lebih indah.
Kita dilahirkan dengan 2 buah telinga di kanan dan di kiri, supaya kita dapat mendengarkan semuanya dari dua buah sisi. Untuk berupaya mengumpulkan pujian dan kritikan dan memilih mana yang benar dan mana yang salah.
Kita lahir dengan otak di dalam tengkorak kepala kita. Sehingga tidak peduli semiskin mana pun kita, kita tetap kaya. Kerana tidak akan ada seorang pun yang dapat mencuri otak kita, fikiran kita dan idea kita. Dan apa yang anda fikirkan dalam otak anda jauh lebih berharga daripada emas dan perhiasan.
Kita lahir dengan 2 mata dan 2 telinga, tapi kita hanya diberi 1 buah mulut. Kerana mulut adalah senjata yang sangat tajam, mulut bisa menyakiti, bisa membunuh, bisa menggoda, dan banyak hal lainnya yang tidak menyenangkan. Sehingga ingatlah bicara sesedikit mungkin tapi lihat dan dengarlah sebanyak-banyaknya.
Kita lahir hanya dengan 1 hati jauh di dalam diri kita. Mengingatkan kita pada penghargaan dan pemberian cinta diharapkan berasal dari hati kita yang paling dalam. Belajar untuk mencintai dan menikmati betapa kita dicintai tapi jangan pernah mengharapkan orang lain untuk mencintai kita seperti kita mencintai dia.
Berilah cinta tanpa meminta balasan dan kita akan menemui cinta yang jauh lebih indah.
Kisah Pohon Apel
di ambil dari tetangga sebelah..
Suatu ketika, hiduplah sebatang pohon apel besar dan anak lelaki yang senang bermain-main di bawah pohon apel itu setiap hari.Ia senang memanjatnya hingga ke pucuk pohon, memakan buahnya,tidur-tiduran di keteduhan rindang daun-daunnya. Anak lelaki itu sangatmencintai pohon apel itu. Demikian pula pohon apel sangat mencintai anak kecil itu. Waktu terus berlalu. Anak lelaki itu kini telah tumbuh besar dan tidak lagi bermain-main dengan pohon apel itu setiap harinya.
Suatu hari ia mendatangi pohon apel. Wajahnya tampak sedih. “Ayo ke sini bermain-main lagi denganku,” pinta pohon apel itu. “Aku bukan anak kecil yang bermain-main dengan pohon lagi,” jawab anak lelaki itu.”Aku ingin sekali memiliki mainan, tapi aku tak punya uang untuk embelinya.”
Pohon apel itu menyahut, “Duh, maaf aku pun tak punya uang… tetapi kau boleh mengambil semua buah apelku dan menjualnya. Kau bisa mendapatkan uang untuk membeli mainan kegemaranmu.” Anak lelaki itu sangat senang. Ia lalu memetik semua buah apel yang ada di pohon dan pergi dengan penuh suka cita. Namun, setelah itu anak lelaki tak pernah datang lagi. Pohon apel itu kembali sedih.
Suatu hari anak lelaki itu datang lagi. Pohon apel sangat senang melihatnya datang. “Ayo bermain-main denganku lagi,” kata pohon apel. “Aku tak punya waktu,” jawab anak lelaki itu. “Aku harus bekerja untuk keluargaku. Kami membutuhkan rumah untuk tempat tinggal. Maukah kau menolongku?” Duh, maaf aku pun tak memiliki rumah.
Tapi kau boleh menebang semua dahan rantingku untuk membangun rumahmu,” kata pohon apel. Kemudian anak lelaki itu menebang semua dahan dan ranting pohon apel itu dan pergi dengan gembira.Pohon apel itu juga merasa bahagia melihat anak lelaki itu senang, tapi anak lelaki itu tak pernah kembali lagi. Pohon apel itu merasa kesepian dan sedih.
Pada suatu musim panas, anak lelaki itu datang lagi. Pohon apel merasasangat bersuka cita menyambutnya.”Ayo bermain-main lagi denganku,” kata pohon apel.”Aku sedih,” kata anak lelaki itu.”Aku sudah tua dan ingin hidup tenang. Aku ingin pergi berlibur dan berlayar. Maukah kau memberi aku sebuah kapal untuk pesiar?”
“Duh, maaf aku tak punya kapal, tapi kau boleh memotong batang tubuhku dan menggunakannya untuk membuat kapal yang kau mau. Pergilah berlayar dan bersenang-senanglah.”
Kemudian, anak lelaki itu memotong batang pohon apel itu dan membuat kapal yang diidamkannya. Ia lalu pergi berlayar dan tak pernah lagi datang menemui pohon apel itu. Akhirnya, anak lelaki itu datang lagi setelah bertahun-tahun kemudian. “Maaf anakku,” kata pohon apel itu. “Aku sudah tak memiliki buah apel lagi untukmu.” “Tak apa. Aku pun sudah tak memiliki gigi untuk mengigit buah apelmu,” jawab anak lelaki itu.
“Aku juga tak memiliki batang dan dahan yang bisa kau panjat,” kata pohon apel.”Sekarang, aku sudah terlalu tua untuk itu,” jawab anak lelaki itu.”Aku benar-benar tak memiliki apa-apa lagi yang bisa aku berikan padamu. Yang tersisa hanyalah akar-akarku yang sudah tua dan sekarat ini,” kata pohon apel itu sambil menitikkan air mata. “Aku tak memerlukan apa-apa lagi sekarang,” kata anak lelaki.
“Aku hanya membutuhkan tempat untuk beristirahat. Aku sangat lelah setelah sekian lama meninggalkanmu.” “Oooh, bagus sekali. Tahukah kau, akar-akar pohon tua adalah tempat terbaik untuk berbaring dan beristirahat. Mari, marilah berbaring di pelukan akar-akarku dan beristirahatlah dengan tenang.” Anak lelaki itu berbaring di pelukan akar-akar pohon.
Pohon apel itu sangat gembira dan tersenyum sambil meneteskan air matanya.
NOTE :Pohon apel itu adalah orang tua kita. Ketika kita muda, kita senang bermain-main dengan ayah dan ibu kita. Ketika kita tumbuh besar, kita meninggalkan mereka, dan hanya datang ketika kita memerlukan sesuatu atau dalam kesulitan. Tak peduli apa pun, orang tua kita akan selalu ada di sana untuk memberikan apa yang bisa mereka berikan untuk membuat kita bahagia. Anda mungkin berpikir bahwa anak lelaki itu telah bertindak sangat kasar pada pohon itu, tetapi begitulah cara kitamemperlakukan orang tua kita.
Dan, yang terpenting: cintailah orang tua kita.Sampaikan pada orang tua kita sekarang, betapa kita mencintainya; danberterima kasih atas seluruh hidup yang telah dan akan diberikannya padakita.
Suatu ketika, hiduplah sebatang pohon apel besar dan anak lelaki yang senang bermain-main di bawah pohon apel itu setiap hari.Ia senang memanjatnya hingga ke pucuk pohon, memakan buahnya,tidur-tiduran di keteduhan rindang daun-daunnya. Anak lelaki itu sangatmencintai pohon apel itu. Demikian pula pohon apel sangat mencintai anak kecil itu. Waktu terus berlalu. Anak lelaki itu kini telah tumbuh besar dan tidak lagi bermain-main dengan pohon apel itu setiap harinya.
Suatu hari ia mendatangi pohon apel. Wajahnya tampak sedih. “Ayo ke sini bermain-main lagi denganku,” pinta pohon apel itu. “Aku bukan anak kecil yang bermain-main dengan pohon lagi,” jawab anak lelaki itu.”Aku ingin sekali memiliki mainan, tapi aku tak punya uang untuk embelinya.”
Pohon apel itu menyahut, “Duh, maaf aku pun tak punya uang… tetapi kau boleh mengambil semua buah apelku dan menjualnya. Kau bisa mendapatkan uang untuk membeli mainan kegemaranmu.” Anak lelaki itu sangat senang. Ia lalu memetik semua buah apel yang ada di pohon dan pergi dengan penuh suka cita. Namun, setelah itu anak lelaki tak pernah datang lagi. Pohon apel itu kembali sedih.
Suatu hari anak lelaki itu datang lagi. Pohon apel sangat senang melihatnya datang. “Ayo bermain-main denganku lagi,” kata pohon apel. “Aku tak punya waktu,” jawab anak lelaki itu. “Aku harus bekerja untuk keluargaku. Kami membutuhkan rumah untuk tempat tinggal. Maukah kau menolongku?” Duh, maaf aku pun tak memiliki rumah.
Tapi kau boleh menebang semua dahan rantingku untuk membangun rumahmu,” kata pohon apel. Kemudian anak lelaki itu menebang semua dahan dan ranting pohon apel itu dan pergi dengan gembira.Pohon apel itu juga merasa bahagia melihat anak lelaki itu senang, tapi anak lelaki itu tak pernah kembali lagi. Pohon apel itu merasa kesepian dan sedih.
Pada suatu musim panas, anak lelaki itu datang lagi. Pohon apel merasasangat bersuka cita menyambutnya.”Ayo bermain-main lagi denganku,” kata pohon apel.”Aku sedih,” kata anak lelaki itu.”Aku sudah tua dan ingin hidup tenang. Aku ingin pergi berlibur dan berlayar. Maukah kau memberi aku sebuah kapal untuk pesiar?”
“Duh, maaf aku tak punya kapal, tapi kau boleh memotong batang tubuhku dan menggunakannya untuk membuat kapal yang kau mau. Pergilah berlayar dan bersenang-senanglah.”
Kemudian, anak lelaki itu memotong batang pohon apel itu dan membuat kapal yang diidamkannya. Ia lalu pergi berlayar dan tak pernah lagi datang menemui pohon apel itu. Akhirnya, anak lelaki itu datang lagi setelah bertahun-tahun kemudian. “Maaf anakku,” kata pohon apel itu. “Aku sudah tak memiliki buah apel lagi untukmu.” “Tak apa. Aku pun sudah tak memiliki gigi untuk mengigit buah apelmu,” jawab anak lelaki itu.
“Aku juga tak memiliki batang dan dahan yang bisa kau panjat,” kata pohon apel.”Sekarang, aku sudah terlalu tua untuk itu,” jawab anak lelaki itu.”Aku benar-benar tak memiliki apa-apa lagi yang bisa aku berikan padamu. Yang tersisa hanyalah akar-akarku yang sudah tua dan sekarat ini,” kata pohon apel itu sambil menitikkan air mata. “Aku tak memerlukan apa-apa lagi sekarang,” kata anak lelaki.
“Aku hanya membutuhkan tempat untuk beristirahat. Aku sangat lelah setelah sekian lama meninggalkanmu.” “Oooh, bagus sekali. Tahukah kau, akar-akar pohon tua adalah tempat terbaik untuk berbaring dan beristirahat. Mari, marilah berbaring di pelukan akar-akarku dan beristirahatlah dengan tenang.” Anak lelaki itu berbaring di pelukan akar-akar pohon.
Pohon apel itu sangat gembira dan tersenyum sambil meneteskan air matanya.
NOTE :Pohon apel itu adalah orang tua kita. Ketika kita muda, kita senang bermain-main dengan ayah dan ibu kita. Ketika kita tumbuh besar, kita meninggalkan mereka, dan hanya datang ketika kita memerlukan sesuatu atau dalam kesulitan. Tak peduli apa pun, orang tua kita akan selalu ada di sana untuk memberikan apa yang bisa mereka berikan untuk membuat kita bahagia. Anda mungkin berpikir bahwa anak lelaki itu telah bertindak sangat kasar pada pohon itu, tetapi begitulah cara kitamemperlakukan orang tua kita.
Dan, yang terpenting: cintailah orang tua kita.Sampaikan pada orang tua kita sekarang, betapa kita mencintainya; danberterima kasih atas seluruh hidup yang telah dan akan diberikannya padakita.
Rabu, 07 Mei 2008
Basmalah
Tafsir Basmalah
Syaikh Muhammad bin Shalih Al 'Utsaimin berkata: "Tafsirnya adalah:
Sesungguhnya seorang insan meminta tolong dengan perantara semua Nama
Allah. Kami
katakan: yang dimaksud adalah setiap nama yang Allah punya. Kami
menyimpulkan hal itu dari ungkapan isim (nama) yang berbentuk mufrad
(tunggal) dan mudhaf (disandarkan) maka bermakna umum. Seorang yang
membaca basmalah bertawassul kepada Allah ta'ala dengan menyebutkan
sifat rahmah. Karena sifat rahmah akan membantu insan untuk melakukan
amalnya. Dan orang yang membaca basmalah ingin meminta tolong dengan
perantara nama-nama Allah untuk memudahkan amal-amalnya. " (Shifatush
shalah, hal.64).
Kitabullah diawali Basmalah
Penulisan AlQur'an diawali dengan basmalah. Hal itu telah ditegaskan
tidak hanya oleh seorang ulama, di antara mereka adalah Al Qurthuby
yarhamuhullah di dalam
tafsirnya. Beliau menyebutkan bahwa para sahabat radhiyallahu 'anhum
telah sepakat menjadikan basmalah tertulis sebagai ayat permulaan dalam
AlQur'an,
inilah kesepakatan mereka yang menjadi permanen semoga Allah meridhai
mereka dan Al Hafizh Ibnu Hajar yarhamuhullah pun menyebutkan pernyataan
serupa di dalam Fathul Baari (Ad Dalaa'il Wal Isyaaraat 'ala Kasyfi
Syubuhaat, hal. 9).
Teladan Nabi
Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam apabila menulis surat memulai dengan
bismillaahirrahmaan irrahiim (lihat Shahih Bukhari 4/402 Kitabul Jihad
Bab Du'a Nabi
shallallahu 'alaihi wa sallam ilal Islam wa Nubuwah wa 'an laa
Yattakhidza Ba'dhuhum Ba'dhanArbaaban min duunillaah wa Qauluhu ta'ala
Maa kaana libasyarin 'an yu'tiyahullaahu 'ilman ilaakhiril ayah, Fathul
Bari 6/109 lihatlah perincian tentang hal ini di dalam Zaadul Ma'aad fib
Hadyi Khairil 'Ibaad karya Ibnul Qayyim 3/688696,
beliau menceritakan surat menyurat Nabi kepada para raja dan lain
sebagainya (Syarh Kitab Kasyfu Syubuhaat Syaikh Shalih AlFauzan, hal.
17) Di dalam Kitab Bad'ul Wahyi Imam Bukhari menyebutkan hadits:
"Bismillahirrahmaan irrahiim min Muhammadin 'Abdillah wa Rasuulihi ila
Hiraqla 'Azhiimir Ruum..." (Shahih Bukhari no. 7, Shahih Muslim no. 1773
dari hadits Ibnu 'Abbas radhiyallahu' anhuma, lihat Hushuulul ma'muul,
hal. 9, lihat juga Ad Dalaa'il Wal Isyaaraat 'ala Kasyfi Syubuhaat, hal.
9).
Hadits tentang Keutamaan Basmalah
Syaikh Abdullah bin Shalih Al Fauzan berkata: "Adapun hadits-hadits
qauliyah tentang masalah basmalah, seperti hadits, 'Kullu amrin dzii
baalin laa yubda'u fiihi
bibismillaahi fahuwa abtar.' Hadits-hadits tersebut adalah hadits yang
dilemahkan oleh para ulama." Hadits ini dikeluarkan oleh Al Khathib
dalam Al Jami' (2/69,70), As Subki dalam Thabaqaat Syafi'iyah Al Kubra,
muqaddimah hal. 12 dari hadits Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, tetapi
hadits itu adalah hadits dha'ifun jiddan (sangat lemah) karena ia
merupakan salah satu riwayat Ahmad bin Muhammad bin Imran yang dikenal
dengan panggilan Ibnul Jundi. Al Khathib berkata di dalam Tarikhnya
(5/77): 'Orang ini dilemahkan riwayatriwayatnya dan ada celaan pada
madzhabnya.' Maksudnya: karena ia cenderung pada ajaran Syi'ah. Ibnu
'Iraq berkata di dalam Tanziihusy Syari'ah Al Marfuu'ah (1/33): 'Dia
adalah pengikut Syi'ah. Ibnul Jauzi menuduhnya telah memalsukan hadits.'
Hadits ini pun telah dinyatakan lemah oleh Al Hafizh Ibnu Hajar
rahimahullah sebagaimana dinukil dalam Futuhaat Rabbaniyah (3/290)
silakan periksa Hushuulul ma'muul, hal. 9) Adapun hadits: 'Kullu amrin
laa yubda'u fiihi bibismillaahiirahma anirrahiim fahuwa ajdzam' adalah
hadits dha'if, didha'ifkan Syaikh Al Albani dalam Dha'iful Jaami' 4217
(lihat catatan kaki Tafsir AlQur'an Al 'Azhim tahqiq Hani Al Hajj,
1/24).
Hikmah memulai dengan Basmalah
Hikmah yang tersimpan dalam mengawali perbuatan dengan
bismillahirrahmaani rraahiim adalah demi mencari barakah dengan
membacanya. Karena
ucapan ini adalah kalimat yang berbarakah, sehingga apabila disebutkan
di permulaan kitab atau di awal risalah maka hal itu akan membuahkan
barakah baginya. Selain itu di dalamnya juga terdapat permohonan
pertolongan kepada Allah ta'ala (lihat Syarh Kitab Kasyfu Syubuhaat
Syaikh Shalih AlFauzan,
hal. 17) Selain itu basmalah termasuk pujian dan dzikir yang paling
mulia (lihat Taudhihaat Al Kasdalamyifaat, hal. 48).
Apakah Basmalah termasuk Al Fatihah ?
Syaikh Al 'Utsaimin berkata: "Dalam masalah ini terdapat perbedaan
pendapat di antara para ulama. Ada di antara mereka yang berpendapat ia
adalah termasuk ayat dari Al Fatihah dan dibaca dengan keras dalam
shalat jahriyah (dibaca keras oleh imam) dan mereka berpandangan tidak
sah orang yang shalat tanpa membaca basmalah karena ia termasuk surat Al
Fatihah. Dan ada pula di antara mereka yang berpendapat bahwa ia bukan
bagian dari Al Fatihah namun sebuah ayat tersendiri di dalam Kitabullah.
Pendapat inilah yang benar. Dalilnya adalah nash serta konteks isi surat
tersebut." Kemudian beliau merinci alasan beliau (lihat Tafsir Juz
'Amma, hal. 9 cet Darul Kutub 'Ilmiyah).
Sahkah shalat tanpa membaca Basmalah ?
Dari Anas radhiyallahu 'anhu: Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, Abu
Bakar dan Umar mengawali shalat dengan membaca Alhamdulillaahi Rabbil
'aalamiin (Muttafaqun 'alaihi). Muslim menambahkan: Mereka semua tidak
membaca bismillaahirrahmaan irrahiim di awal bacaan maupun di akhirnya.
Sedangkan dalam riwayat Ahmad, Nasa'i dan Ibnu Khuzaimah Anas berkata:
Mereka semua tidak mengeraskan bacaan bismillaahirrahmaan irrahiim. Di
dalam riwayat lainnya dalam Shahih Ibnu Khuzaimah dengan katakata:
Mereka semua membacanya dengan sirr (pelan).
Diantara faidah yang bisa dipetik dari hadits di atas adalah:
1. Tata cara Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dan para khulafa'ur
rasyidin membuka bacaan shalat dengan alhamdulillaahi rabbil 'aalamiin.
2. Hadits ini menunjukkan bahwa basmalah bukan termasuk bagian awal dari
surat Al Fatihah. Oleh sebab itu tidak wajib membacanya beriringan
dengan surat ini.
Akan tetapi hukum membacanya hanyalah sunnah sebagai pemisah antara
suratsurat, meskipun dalam hal ini memang ada perselisihan pendapat
ulama.
Para imam yang empat berbeda pendapat tentang hukum membaca basmalah :
1. Imam Abu Hanifah, Syafi'i dan Ahmad berpendapat bacaan itu
disyari'atkan di dalam shalat
2. Imam Malik berpendapat bacaan itu tidak disyari'atkan untuk dibaca
dalam shalat wajib, baik dengan pelan maupun keras Kemudian Imam yang
tiga (Abu Hanifah, Syafi'i dan Ahmad) berselisih tentang hukum
membacanya:
3. Imam Abu Hanifah dan Ahmad berpendapat membacanya adalah sunnah bukan
wajib karena basmalah bukan bagian dari Al Fatihah
4. Imam Syafi'i berpendapat membacanya adalah wajib (lihat Taudhihul
Ahkaam, 1/413414 cet. Dar Ibnul Haitsam)
Menjahrkan Basmalah dalam Shalat Jahriyah
Syaikh Ibnu 'Utsaimin ditanya: Apakah hukum menjahrkan (mengeraskan
bacaan) basmalah? Beliau menjawab: "Pendapat yang lebih kuat adalah
mengeraskan bacaan
basmalah itu tidak semestinya dilakukan dan yang sunnah adalah
melirihkannya karena ia bukan bagian dari surat Al Fatihah. Akan tetapi
jika ada orang yang terkadang membacanya dengan keras maka tidak
mengapa. Bahkan sebagian ulama ada yang berpendapat bahwa hendaknya
memang dikeraskan kadangkadang
sebab adanya riwayat yang menceritakan Nabi shallallahu 'alaihi wa
sallam pernah mengeraskannya (HR. Nasa'i di dalam Al Iftitah Bab
Qiro'atu ismillahirrahmaanir rahiim (904), Ibnu Hibban 1788, Ibnu
Khuzaimah 499, Daruquthni 1/305, Baihaqi 2/46,58) Akan tetapi hadits
yang jelas terbukti keabsahannya menerangkan bahwa beliau shallallahu
'alaihi wa sallam biasa tidak mengeraskannya (berdasarkan hadits Anas
bin Malik radhiyallahu 'anhu: Aku pernah
shalat menjadi makmum di belakang Rasulullah shallallahu 'alaihi wa
sallam, di belakang Abu Bakar, di belakang Umar dan tidak ada seorang
pun di antara mereka yang memperdengarkan bacaan
bismillahirrahmanir rahiim (HR. Muslim dalam kitab Shalat Bab Hujjatu man
Qoola la yajharu bil basmalah (399)) Akan tetapi apabila seandainya ada
seseorang yang menjahrkannya dalam rangka melunakkan hati suatu kaum
yang berpendapat jahr saya berharap hal itu tidak mengapa." (Fatawa
Arkanil Islam, hal. 316317) Syaikh Abdullah bin Abdurrahman Al Bassaam
mengatakan : "Syaikhul Islam mengatakan: Terus menerus mengeraskan
bacaan (basmalah) adalah bid'ah dan bertentangan dengan sunnah
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Dan haditshadits yang
menegaskan cara keras dalam membacanya semuanya adalah palsu."
(Taudhihul Ahkaam, 1/414) Imam Ibnu Katsir mengatakan : "...para ulama
sepakat menyatakan sah orang yang mengeraskan bacaan basmalah maupun
yang melirihkannya. .." (Tafsir AlQur'an Al 'Azhim, 1/22).
Syaikh Muhammad bin Shalih Al 'Utsaimin berkata: "Tafsirnya adalah:
Sesungguhnya seorang insan meminta tolong dengan perantara semua Nama
Allah. Kami
katakan: yang dimaksud adalah setiap nama yang Allah punya. Kami
menyimpulkan hal itu dari ungkapan isim (nama) yang berbentuk mufrad
(tunggal) dan mudhaf (disandarkan) maka bermakna umum. Seorang yang
membaca basmalah bertawassul kepada Allah ta'ala dengan menyebutkan
sifat rahmah. Karena sifat rahmah akan membantu insan untuk melakukan
amalnya. Dan orang yang membaca basmalah ingin meminta tolong dengan
perantara nama-nama Allah untuk memudahkan amal-amalnya. " (Shifatush
shalah, hal.64).
Kitabullah diawali Basmalah
Penulisan AlQur'an diawali dengan basmalah. Hal itu telah ditegaskan
tidak hanya oleh seorang ulama, di antara mereka adalah Al Qurthuby
yarhamuhullah di dalam
tafsirnya. Beliau menyebutkan bahwa para sahabat radhiyallahu 'anhum
telah sepakat menjadikan basmalah tertulis sebagai ayat permulaan dalam
AlQur'an,
inilah kesepakatan mereka yang menjadi permanen semoga Allah meridhai
mereka dan Al Hafizh Ibnu Hajar yarhamuhullah pun menyebutkan pernyataan
serupa di dalam Fathul Baari (Ad Dalaa'il Wal Isyaaraat 'ala Kasyfi
Syubuhaat, hal. 9).
Teladan Nabi
Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam apabila menulis surat memulai dengan
bismillaahirrahmaan irrahiim (lihat Shahih Bukhari 4/402 Kitabul Jihad
Bab Du'a Nabi
shallallahu 'alaihi wa sallam ilal Islam wa Nubuwah wa 'an laa
Yattakhidza Ba'dhuhum Ba'dhanArbaaban min duunillaah wa Qauluhu ta'ala
Maa kaana libasyarin 'an yu'tiyahullaahu 'ilman ilaakhiril ayah, Fathul
Bari 6/109 lihatlah perincian tentang hal ini di dalam Zaadul Ma'aad fib
Hadyi Khairil 'Ibaad karya Ibnul Qayyim 3/688696,
beliau menceritakan surat menyurat Nabi kepada para raja dan lain
sebagainya (Syarh Kitab Kasyfu Syubuhaat Syaikh Shalih AlFauzan, hal.
17) Di dalam Kitab Bad'ul Wahyi Imam Bukhari menyebutkan hadits:
"Bismillahirrahmaan irrahiim min Muhammadin 'Abdillah wa Rasuulihi ila
Hiraqla 'Azhiimir Ruum..." (Shahih Bukhari no. 7, Shahih Muslim no. 1773
dari hadits Ibnu 'Abbas radhiyallahu' anhuma, lihat Hushuulul ma'muul,
hal. 9, lihat juga Ad Dalaa'il Wal Isyaaraat 'ala Kasyfi Syubuhaat, hal.
9).
Hadits tentang Keutamaan Basmalah
Syaikh Abdullah bin Shalih Al Fauzan berkata: "Adapun hadits-hadits
qauliyah tentang masalah basmalah, seperti hadits, 'Kullu amrin dzii
baalin laa yubda'u fiihi
bibismillaahi fahuwa abtar.' Hadits-hadits tersebut adalah hadits yang
dilemahkan oleh para ulama." Hadits ini dikeluarkan oleh Al Khathib
dalam Al Jami' (2/69,70), As Subki dalam Thabaqaat Syafi'iyah Al Kubra,
muqaddimah hal. 12 dari hadits Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, tetapi
hadits itu adalah hadits dha'ifun jiddan (sangat lemah) karena ia
merupakan salah satu riwayat Ahmad bin Muhammad bin Imran yang dikenal
dengan panggilan Ibnul Jundi. Al Khathib berkata di dalam Tarikhnya
(5/77): 'Orang ini dilemahkan riwayatriwayatnya dan ada celaan pada
madzhabnya.' Maksudnya: karena ia cenderung pada ajaran Syi'ah. Ibnu
'Iraq berkata di dalam Tanziihusy Syari'ah Al Marfuu'ah (1/33): 'Dia
adalah pengikut Syi'ah. Ibnul Jauzi menuduhnya telah memalsukan hadits.'
Hadits ini pun telah dinyatakan lemah oleh Al Hafizh Ibnu Hajar
rahimahullah sebagaimana dinukil dalam Futuhaat Rabbaniyah (3/290)
silakan periksa Hushuulul ma'muul, hal. 9) Adapun hadits: 'Kullu amrin
laa yubda'u fiihi bibismillaahiirahma anirrahiim fahuwa ajdzam' adalah
hadits dha'if, didha'ifkan Syaikh Al Albani dalam Dha'iful Jaami' 4217
(lihat catatan kaki Tafsir AlQur'an Al 'Azhim tahqiq Hani Al Hajj,
1/24).
Hikmah memulai dengan Basmalah
Hikmah yang tersimpan dalam mengawali perbuatan dengan
bismillahirrahmaani rraahiim adalah demi mencari barakah dengan
membacanya. Karena
ucapan ini adalah kalimat yang berbarakah, sehingga apabila disebutkan
di permulaan kitab atau di awal risalah maka hal itu akan membuahkan
barakah baginya. Selain itu di dalamnya juga terdapat permohonan
pertolongan kepada Allah ta'ala (lihat Syarh Kitab Kasyfu Syubuhaat
Syaikh Shalih AlFauzan,
hal. 17) Selain itu basmalah termasuk pujian dan dzikir yang paling
mulia (lihat Taudhihaat Al Kasdalamyifaat, hal. 48).
Apakah Basmalah termasuk Al Fatihah ?
Syaikh Al 'Utsaimin berkata: "Dalam masalah ini terdapat perbedaan
pendapat di antara para ulama. Ada di antara mereka yang berpendapat ia
adalah termasuk ayat dari Al Fatihah dan dibaca dengan keras dalam
shalat jahriyah (dibaca keras oleh imam) dan mereka berpandangan tidak
sah orang yang shalat tanpa membaca basmalah karena ia termasuk surat Al
Fatihah. Dan ada pula di antara mereka yang berpendapat bahwa ia bukan
bagian dari Al Fatihah namun sebuah ayat tersendiri di dalam Kitabullah.
Pendapat inilah yang benar. Dalilnya adalah nash serta konteks isi surat
tersebut." Kemudian beliau merinci alasan beliau (lihat Tafsir Juz
'Amma, hal. 9 cet Darul Kutub 'Ilmiyah).
Sahkah shalat tanpa membaca Basmalah ?
Dari Anas radhiyallahu 'anhu: Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, Abu
Bakar dan Umar mengawali shalat dengan membaca Alhamdulillaahi Rabbil
'aalamiin (Muttafaqun 'alaihi). Muslim menambahkan: Mereka semua tidak
membaca bismillaahirrahmaan irrahiim di awal bacaan maupun di akhirnya.
Sedangkan dalam riwayat Ahmad, Nasa'i dan Ibnu Khuzaimah Anas berkata:
Mereka semua tidak mengeraskan bacaan bismillaahirrahmaan irrahiim. Di
dalam riwayat lainnya dalam Shahih Ibnu Khuzaimah dengan katakata:
Mereka semua membacanya dengan sirr (pelan).
Diantara faidah yang bisa dipetik dari hadits di atas adalah:
1. Tata cara Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dan para khulafa'ur
rasyidin membuka bacaan shalat dengan alhamdulillaahi rabbil 'aalamiin.
2. Hadits ini menunjukkan bahwa basmalah bukan termasuk bagian awal dari
surat Al Fatihah. Oleh sebab itu tidak wajib membacanya beriringan
dengan surat ini.
Akan tetapi hukum membacanya hanyalah sunnah sebagai pemisah antara
suratsurat, meskipun dalam hal ini memang ada perselisihan pendapat
ulama.
Para imam yang empat berbeda pendapat tentang hukum membaca basmalah :
1. Imam Abu Hanifah, Syafi'i dan Ahmad berpendapat bacaan itu
disyari'atkan di dalam shalat
2. Imam Malik berpendapat bacaan itu tidak disyari'atkan untuk dibaca
dalam shalat wajib, baik dengan pelan maupun keras Kemudian Imam yang
tiga (Abu Hanifah, Syafi'i dan Ahmad) berselisih tentang hukum
membacanya:
3. Imam Abu Hanifah dan Ahmad berpendapat membacanya adalah sunnah bukan
wajib karena basmalah bukan bagian dari Al Fatihah
4. Imam Syafi'i berpendapat membacanya adalah wajib (lihat Taudhihul
Ahkaam, 1/413414 cet. Dar Ibnul Haitsam)
Menjahrkan Basmalah dalam Shalat Jahriyah
Syaikh Ibnu 'Utsaimin ditanya: Apakah hukum menjahrkan (mengeraskan
bacaan) basmalah? Beliau menjawab: "Pendapat yang lebih kuat adalah
mengeraskan bacaan
basmalah itu tidak semestinya dilakukan dan yang sunnah adalah
melirihkannya karena ia bukan bagian dari surat Al Fatihah. Akan tetapi
jika ada orang yang terkadang membacanya dengan keras maka tidak
mengapa. Bahkan sebagian ulama ada yang berpendapat bahwa hendaknya
memang dikeraskan kadangkadang
sebab adanya riwayat yang menceritakan Nabi shallallahu 'alaihi wa
sallam pernah mengeraskannya (HR. Nasa'i di dalam Al Iftitah Bab
Qiro'atu ismillahirrahmaanir rahiim (904), Ibnu Hibban 1788, Ibnu
Khuzaimah 499, Daruquthni 1/305, Baihaqi 2/46,58) Akan tetapi hadits
yang jelas terbukti keabsahannya menerangkan bahwa beliau shallallahu
'alaihi wa sallam biasa tidak mengeraskannya (berdasarkan hadits Anas
bin Malik radhiyallahu 'anhu: Aku pernah
shalat menjadi makmum di belakang Rasulullah shallallahu 'alaihi wa
sallam, di belakang Abu Bakar, di belakang Umar dan tidak ada seorang
pun di antara mereka yang memperdengarkan bacaan
bismillahirrahmanir rahiim (HR. Muslim dalam kitab Shalat Bab Hujjatu man
Qoola la yajharu bil basmalah (399)) Akan tetapi apabila seandainya ada
seseorang yang menjahrkannya dalam rangka melunakkan hati suatu kaum
yang berpendapat jahr saya berharap hal itu tidak mengapa." (Fatawa
Arkanil Islam, hal. 316317) Syaikh Abdullah bin Abdurrahman Al Bassaam
mengatakan : "Syaikhul Islam mengatakan: Terus menerus mengeraskan
bacaan (basmalah) adalah bid'ah dan bertentangan dengan sunnah
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Dan haditshadits yang
menegaskan cara keras dalam membacanya semuanya adalah palsu."
(Taudhihul Ahkaam, 1/414) Imam Ibnu Katsir mengatakan : "...para ulama
sepakat menyatakan sah orang yang mengeraskan bacaan basmalah maupun
yang melirihkannya. .." (Tafsir AlQur'an Al 'Azhim, 1/22).
Capres
Djoko Su'ud Sukahar - detikcom
Jakarta - Partai Keadilan Sejahtera (PKS) sedang booming. Setelah berhasil
'mendudukkan' kadernya di banyak daerah dalam Pemilihan Kepala Daerah
(Pilkada), kini mulai muncul wacana baru. Men-calonpresiden- kan Hidayat Nur
Wahid.
Wacana itu sudah muncul sejak tahun lalu. Tapi masih timbul-tenggelam.
Nampaknya itu karena PKS sendiri 'belum' yakin dengan kekuatannya sendiri.
Baru setelah berhasil mengukir sejarah di banyak daerah, maka ambisi pun
dipertinggi. Kalau di level Bupati, Walikota, dan Gubernur gilang-gemilang,
mengapa tidak sekalian nyasar jabatan tertinggi di negeri ini.
Pikiran itu memang rasional. Malah kalau melihat tren partai ini dalam
beberapa bulan terakhir, gagasan itu juga keharusan. Karena tujuan tertinggi
partai adalah untuk meraih kekuasaan. Menempatkan kader sebagai penguasa
negeri. Dengan begitu, gagasan partai bisa direalisasikan menjadi kebijakan
politik.
Namun sebelum itu menjadi menu utama dalam perjuangan PKS, nampaknya partai
ini perlu melihat kembali jatidirinya. Jatidiri partai, watak konstituennya,
dan tentu, juga jatidiri orang yang akan diusungnya untuk ditempatkan pada
posisi puncak. Hidayat Nur Wahid (HNW).
Sebagai partai program, PKS memang tumbuh luar biasa. Dia lambat tapi pasti
dalam meraih simpati. Melakukan sosialisasi melalui pengajian dan mushola.
Merangkul anak muda yang 'muak' dengan ketimpangan di kampus atau di
kampung. Dan dengan bahasa 'keimanan' mengajaknya 'berjuang' melawan itu
melalui gerakan moral dan 'ibadah'.
Gerakan macam itu memang hebat. PKS akhirnya tidak dilihat sebagai partai
politik. PKS berubah jadi cawan penampung. Penampung keresahan, kejengkelan,
ketidakberdayaan, serta memberi harapan di tengah banyak orang sudah lepas
harapan.
Revolusi teduh yang dilakukan PKS mirip Saminisme. Samin Surosentiko dalam
melawan Belanda tidak menterjemahkan revolusi sebagai kekerasan, kekasaran,
dan mungkin berdarah-darah. Revolusi itu didekonstruksi dengan sikap
'sumeleh'. Menuruti perintah tapi tidak patuh. Dan menerima hukuman dengan
legowo sembari meminta dihukum tambah. Berkat itu Belanda puyeng. Kehilangan
akal.
PKS dalam menjalankan roda partai menjalankan pola 'semacam' itu. Di tengah
jaman edan, politisi negeri dijangkiti wabah korupsi, dan penegakan hukum
belum maksimal, PKS tidak berkoar-koar tapi memberi tauladan. Menjaga
moralitas kader.
HNW berada di garis depan. Gayanya sederhana, omongannya menyejukkan, serta
'bersih' dari segala persoalan hedonistis. Itu yang menjadi magnit bagi
bangsa yang sudah kebingungan ini. PKS tidak hanya jadi tambatan kadernya,
tetapi juga jadi pilihan 'massa liar' yang bukan partisan partai mana-mana.
Namun adakah dengan begitu HNW merupakan calon presiden idaman? Menurut saya
malah sebaliknya. HNW tidak layak jadi pemimpin negeri. Dia lebih cocok jadi
pemimpin umat. Jika dipaksakan, tidak hanya HNW yang bakal merugi, tetapi
juga PKS.
Dalam banyak sejarah orang besar telah tercatat soal itu. Raja yang bermoral
dijatuhkan rakyatnya karena moralitasnya yang baik. Itu tersurat dalam The
Prince Machiavelli. Sedang dalam negeri, penurunan pamor terjadi pada Gus
Dur pasca lengser jadi presiden. Ditambah dalil Lord Acton yang menyebut
'kekuasaan cenderung korup', maka rasanya wacana yang digulirkan simpatisan
HNW adalah kontra produktif.
Partai 'Keadilan dan Sejahtera' adalah utopia. Dia angan-angan dan harapan.
Jika itu menjadi realitas, maka hilang sudah kekuatannya sebagai harapan dan
angan-angan. Adakah bisa dibayangkan reaksi umat kalau HNW presiden dan PKS
jadi partai pemerintah?
Jakarta - Partai Keadilan Sejahtera (PKS) sedang booming. Setelah berhasil
'mendudukkan' kadernya di banyak daerah dalam Pemilihan Kepala Daerah
(Pilkada), kini mulai muncul wacana baru. Men-calonpresiden- kan Hidayat Nur
Wahid.
Wacana itu sudah muncul sejak tahun lalu. Tapi masih timbul-tenggelam.
Nampaknya itu karena PKS sendiri 'belum' yakin dengan kekuatannya sendiri.
Baru setelah berhasil mengukir sejarah di banyak daerah, maka ambisi pun
dipertinggi. Kalau di level Bupati, Walikota, dan Gubernur gilang-gemilang,
mengapa tidak sekalian nyasar jabatan tertinggi di negeri ini.
Pikiran itu memang rasional. Malah kalau melihat tren partai ini dalam
beberapa bulan terakhir, gagasan itu juga keharusan. Karena tujuan tertinggi
partai adalah untuk meraih kekuasaan. Menempatkan kader sebagai penguasa
negeri. Dengan begitu, gagasan partai bisa direalisasikan menjadi kebijakan
politik.
Namun sebelum itu menjadi menu utama dalam perjuangan PKS, nampaknya partai
ini perlu melihat kembali jatidirinya. Jatidiri partai, watak konstituennya,
dan tentu, juga jatidiri orang yang akan diusungnya untuk ditempatkan pada
posisi puncak. Hidayat Nur Wahid (HNW).
Sebagai partai program, PKS memang tumbuh luar biasa. Dia lambat tapi pasti
dalam meraih simpati. Melakukan sosialisasi melalui pengajian dan mushola.
Merangkul anak muda yang 'muak' dengan ketimpangan di kampus atau di
kampung. Dan dengan bahasa 'keimanan' mengajaknya 'berjuang' melawan itu
melalui gerakan moral dan 'ibadah'.
Gerakan macam itu memang hebat. PKS akhirnya tidak dilihat sebagai partai
politik. PKS berubah jadi cawan penampung. Penampung keresahan, kejengkelan,
ketidakberdayaan, serta memberi harapan di tengah banyak orang sudah lepas
harapan.
Revolusi teduh yang dilakukan PKS mirip Saminisme. Samin Surosentiko dalam
melawan Belanda tidak menterjemahkan revolusi sebagai kekerasan, kekasaran,
dan mungkin berdarah-darah. Revolusi itu didekonstruksi dengan sikap
'sumeleh'. Menuruti perintah tapi tidak patuh. Dan menerima hukuman dengan
legowo sembari meminta dihukum tambah. Berkat itu Belanda puyeng. Kehilangan
akal.
PKS dalam menjalankan roda partai menjalankan pola 'semacam' itu. Di tengah
jaman edan, politisi negeri dijangkiti wabah korupsi, dan penegakan hukum
belum maksimal, PKS tidak berkoar-koar tapi memberi tauladan. Menjaga
moralitas kader.
HNW berada di garis depan. Gayanya sederhana, omongannya menyejukkan, serta
'bersih' dari segala persoalan hedonistis. Itu yang menjadi magnit bagi
bangsa yang sudah kebingungan ini. PKS tidak hanya jadi tambatan kadernya,
tetapi juga jadi pilihan 'massa liar' yang bukan partisan partai mana-mana.
Namun adakah dengan begitu HNW merupakan calon presiden idaman? Menurut saya
malah sebaliknya. HNW tidak layak jadi pemimpin negeri. Dia lebih cocok jadi
pemimpin umat. Jika dipaksakan, tidak hanya HNW yang bakal merugi, tetapi
juga PKS.
Dalam banyak sejarah orang besar telah tercatat soal itu. Raja yang bermoral
dijatuhkan rakyatnya karena moralitasnya yang baik. Itu tersurat dalam The
Prince Machiavelli. Sedang dalam negeri, penurunan pamor terjadi pada Gus
Dur pasca lengser jadi presiden. Ditambah dalil Lord Acton yang menyebut
'kekuasaan cenderung korup', maka rasanya wacana yang digulirkan simpatisan
HNW adalah kontra produktif.
Partai 'Keadilan dan Sejahtera' adalah utopia. Dia angan-angan dan harapan.
Jika itu menjadi realitas, maka hilang sudah kekuatannya sebagai harapan dan
angan-angan. Adakah bisa dibayangkan reaksi umat kalau HNW presiden dan PKS
jadi partai pemerintah?
Ujub
Setan mempermalukan seseorang dengan rasa 'ujub
(kagum) pada
> diri sendiri. Seseorang yang ujub pada dirinya sendiri akan terungkap
> kesalahannya yang memalukan tersebut. Maklum, sifat ujub itu seperti
kerikil
> di jalan. Dalam membuat seseorang yang berjalan dengan wajah diangkat,
> tersandung dan jatuh tersungkur mencium tanah.
>
> Orang yang ujub adalah orang yang mempermahal atau menuntut harga yang
> tinggi untuk dirinya dari yang sesungguhnya. Kata Imam Syafi'i,
"Barangsiapa
> yang menaikan harga dirinya di atas harga yang sesuai dengannya,
maka Allah
> akan mengembalikannya pada nilai yang sesuai."
>
> Namun faktor lingkungan juga punya andil dalam membuat seseorang
bersifat
> ujub. Yaitu, jika orang-orang di sekitar orang yang ujub itu mengecilkan
> dosa dan kesalahannya, dan melupakan sebagian besar darinya.
>
> Basyar ibn Al-Harits lain lagi. Ia mendefiniskan ujub dengan kalimat,
> "Apabila kamu sudah menganggap bahwa amalmu lebih banyak, sedangkan
engkau
> menganggap amal orang lain sedikit."
>
> Sikap meremehkan dan menyerang orang lain juga salah satu tanda yang
paling
> menonjol dari sifat ujub. Sufyan Ats-Tsauri mengungkapkan, "Sifat ujub
> adalah kekagumanmu pada dirimu sendiri, sehingga kamu merasa bahwa kamu
> lebih mulia dan lebih tinggi derajatnya dari saudaramu. Padahal,
bisa jadi
> kamu tidak beramal dengan benar seperti dia, atau barangkali ia
lebih wara'
> darimu terhadap hal-ahal yang diharamkan Allah dan lebih tulus amalnya."
>
> Fudhail bin 'Iyadh sependapat dengan Ats-Tsauri. Katanya, "Apabila Iblis
> telah berhasil melakukan tiga hal pada diri anak Adam, maka ia akan
berkata,
> 'Saya tidak akan menuntutnya dengan hal yang lain.' Tiga hal itu
adalah: dia ujub pada dirinya sendiri, dia merasa amalnya sudah banyak, dan dia
melupakan dosa-dosanya. "
Tiga sifat yang disebut Fudhail adalah ciri utama sifat ujub. Dan
ketiganya adalah pangkal dari perbuatan dosa. Iblis menjamin jika seseorang sudah
terjangkiti sifat itu, ia akan mudah melakukan dosa-dosa yang lain yang disukai Iblis. Karena itu camkan perkataan Nabi Isa a.s. yang dikutip Fudhail bin Iyadh ini, "Betapa banyak pelita yang dipadamkan oleh angin dan betapa banyak ibadah yang dirusak oleh sifat ujub." Jadi, jangan padamkan cahaya amal Anda dengan sifat ujub
(kagum) pada
> diri sendiri. Seseorang yang ujub pada dirinya sendiri akan terungkap
> kesalahannya yang memalukan tersebut. Maklum, sifat ujub itu seperti
kerikil
> di jalan. Dalam membuat seseorang yang berjalan dengan wajah diangkat,
> tersandung dan jatuh tersungkur mencium tanah.
>
> Orang yang ujub adalah orang yang mempermahal atau menuntut harga yang
> tinggi untuk dirinya dari yang sesungguhnya. Kata Imam Syafi'i,
"Barangsiapa
> yang menaikan harga dirinya di atas harga yang sesuai dengannya,
maka Allah
> akan mengembalikannya pada nilai yang sesuai."
>
> Namun faktor lingkungan juga punya andil dalam membuat seseorang
bersifat
> ujub. Yaitu, jika orang-orang di sekitar orang yang ujub itu mengecilkan
> dosa dan kesalahannya, dan melupakan sebagian besar darinya.
>
> Basyar ibn Al-Harits lain lagi. Ia mendefiniskan ujub dengan kalimat,
> "Apabila kamu sudah menganggap bahwa amalmu lebih banyak, sedangkan
engkau
> menganggap amal orang lain sedikit."
>
> Sikap meremehkan dan menyerang orang lain juga salah satu tanda yang
paling
> menonjol dari sifat ujub. Sufyan Ats-Tsauri mengungkapkan, "Sifat ujub
> adalah kekagumanmu pada dirimu sendiri, sehingga kamu merasa bahwa kamu
> lebih mulia dan lebih tinggi derajatnya dari saudaramu. Padahal,
bisa jadi
> kamu tidak beramal dengan benar seperti dia, atau barangkali ia
lebih wara'
> darimu terhadap hal-ahal yang diharamkan Allah dan lebih tulus amalnya."
>
> Fudhail bin 'Iyadh sependapat dengan Ats-Tsauri. Katanya, "Apabila Iblis
> telah berhasil melakukan tiga hal pada diri anak Adam, maka ia akan
berkata,
> 'Saya tidak akan menuntutnya dengan hal yang lain.' Tiga hal itu
adalah: dia ujub pada dirinya sendiri, dia merasa amalnya sudah banyak, dan dia
melupakan dosa-dosanya. "
Tiga sifat yang disebut Fudhail adalah ciri utama sifat ujub. Dan
ketiganya adalah pangkal dari perbuatan dosa. Iblis menjamin jika seseorang sudah
terjangkiti sifat itu, ia akan mudah melakukan dosa-dosa yang lain yang disukai Iblis. Karena itu camkan perkataan Nabi Isa a.s. yang dikutip Fudhail bin Iyadh ini, "Betapa banyak pelita yang dipadamkan oleh angin dan betapa banyak ibadah yang dirusak oleh sifat ujub." Jadi, jangan padamkan cahaya amal Anda dengan sifat ujub
Berhentilah Jadi Gelas
Seorang guru sufi mendatangi seorang muridnya ketika wajahnya belakangan ini selalu tampak murung.
"Kenapa kau selalu murung, nak? Bukankah banyak hal yang indah di dunia ini? Ke mana perginya wajah bersyukurmu? " sang Guru bertanya.
"Guru, belakangan ini hidup saya penuh masalah. Sulit bagi saya untuk tersenyum. Masalah datang seperti tak ada habis-habisnya, " jawab sang murid muda.
Sang Guru terkekeh. "Nak, ambil segelas air dan dua genggam garam. Bawalah kemari. Biar kuperbaiki suasana hatimu itu."
Si murid pun beranjak pelan tanpa semangat. Ia laksanakan permintaan gurunya itu, lalu kembali lagi membawa gelas dan garam sebagaimana yang diminta.
"Coba ambil segenggam garam, dan masukkan ke segelas air itu," kataSang Guru. "Setelah itu coba kau minum airnya sedikit."
Si murid pun melakukannya. Wajahnya kini meringis karena meminum air asin.
"Bagaimana rasanya?" tanya Sang Guru.
"Asin, dan perutku jadi mual," jawab si murid dengan wajah yang masih meringis.
Sang Guru terkekeh-kekeh melihat wajah muridnya yang meringis keasinan.
"Sekarang kau ikut aku." Sang Guru membawa muridnya ke danau di dekat tempat mereka. "Ambil garam yang tersisa, dan tebarkan ke danau."
Si murid menebarkan segenggam garam yang tersisa ke danau, tanpa bicara. Rasa asin di mulutnya belum hilang. Ia ingin meludahkan rasa asin dari mulutnya, tapi tak dilakukannya. Rasanya tak sopan meludah di hadapan mursyid, begitu pikirnya.
"Sekarang, coba kau minum air danau itu," kata Sang Guru sambil mencari batu yang cukup datar untuk didudukinya, tepat di pinggir danau.
Si murid menangkupkan kedua tangannya, mengambil air danau, dan membawanya ke mulutnya lalu meneguknya. Ketika air danau yang dingin dan segar mengalir di tenggorokannya, Sang Guru bertanya kepadanya, "Bagaimana rasanya?"
"Segar, segar sekali," kata si murid sambil mengelap bibirnya dengan punggung tangannya. Tentu saja, danau ini berasal dari aliran sumber air di atas sana . Dan airnya mengalir menjadi sungai kecil di bawah.Dan sudah pasti, air danau ini juga menghilangkan rasa asin yang tersisa di mulutnya.
"Terasakah rasa garam yang kau tebarkan tadi?"
"Tidak sama sekali," kata si murid sambil mengambil air dan meminumnya lagi. Sang Guru hanya tersenyum memperhatikannya, membiarkan muridnya itu meminum air danau sampai puas.
"Nak," kata Sang Guru setelah muridnya selesai minum. "Segala masalah dalam hidup itu seperti segenggam garam. Tidak kurang, tidak lebih.
Hanya segenggam garam. Banyaknya masalah dan penderitaan yang harus kau alami sepanjang kehidupanmu itu sudah dikadar oleh Allah, sesuai untuk dirimu. Jumlahnya tetap, segitu-segitu saja, tidak berkurang dan tidak bertambah. Setiap manusia yang lahir ke dunia ini pun demikian. Tidak ada satu pun manusia, walaupun dia seorang Nabi, yang bebas dari penderitaan dan masalah."
Si murid terdiam, mendengarkan.
"Tapi Nak, rasa `asin' dari penderitaan yang dialami itu sangat tergantung dari besarnya 'qalbu'(hati) yang menampungnya. Jadi Nak, supaya tidak merasa menderita, berhentilah jadi gelas. Jadikan qalbu dalam dadamu itu jadi sebesar danau."
"Kenapa kau selalu murung, nak? Bukankah banyak hal yang indah di dunia ini? Ke mana perginya wajah bersyukurmu? " sang Guru bertanya.
"Guru, belakangan ini hidup saya penuh masalah. Sulit bagi saya untuk tersenyum. Masalah datang seperti tak ada habis-habisnya, " jawab sang murid muda.
Sang Guru terkekeh. "Nak, ambil segelas air dan dua genggam garam. Bawalah kemari. Biar kuperbaiki suasana hatimu itu."
Si murid pun beranjak pelan tanpa semangat. Ia laksanakan permintaan gurunya itu, lalu kembali lagi membawa gelas dan garam sebagaimana yang diminta.
"Coba ambil segenggam garam, dan masukkan ke segelas air itu," kataSang Guru. "Setelah itu coba kau minum airnya sedikit."
Si murid pun melakukannya. Wajahnya kini meringis karena meminum air asin.
"Bagaimana rasanya?" tanya Sang Guru.
"Asin, dan perutku jadi mual," jawab si murid dengan wajah yang masih meringis.
Sang Guru terkekeh-kekeh melihat wajah muridnya yang meringis keasinan.
"Sekarang kau ikut aku." Sang Guru membawa muridnya ke danau di dekat tempat mereka. "Ambil garam yang tersisa, dan tebarkan ke danau."
Si murid menebarkan segenggam garam yang tersisa ke danau, tanpa bicara. Rasa asin di mulutnya belum hilang. Ia ingin meludahkan rasa asin dari mulutnya, tapi tak dilakukannya. Rasanya tak sopan meludah di hadapan mursyid, begitu pikirnya.
"Sekarang, coba kau minum air danau itu," kata Sang Guru sambil mencari batu yang cukup datar untuk didudukinya, tepat di pinggir danau.
Si murid menangkupkan kedua tangannya, mengambil air danau, dan membawanya ke mulutnya lalu meneguknya. Ketika air danau yang dingin dan segar mengalir di tenggorokannya, Sang Guru bertanya kepadanya, "Bagaimana rasanya?"
"Segar, segar sekali," kata si murid sambil mengelap bibirnya dengan punggung tangannya. Tentu saja, danau ini berasal dari aliran sumber air di atas sana . Dan airnya mengalir menjadi sungai kecil di bawah.Dan sudah pasti, air danau ini juga menghilangkan rasa asin yang tersisa di mulutnya.
"Terasakah rasa garam yang kau tebarkan tadi?"
"Tidak sama sekali," kata si murid sambil mengambil air dan meminumnya lagi. Sang Guru hanya tersenyum memperhatikannya, membiarkan muridnya itu meminum air danau sampai puas.
"Nak," kata Sang Guru setelah muridnya selesai minum. "Segala masalah dalam hidup itu seperti segenggam garam. Tidak kurang, tidak lebih.
Hanya segenggam garam. Banyaknya masalah dan penderitaan yang harus kau alami sepanjang kehidupanmu itu sudah dikadar oleh Allah, sesuai untuk dirimu. Jumlahnya tetap, segitu-segitu saja, tidak berkurang dan tidak bertambah. Setiap manusia yang lahir ke dunia ini pun demikian. Tidak ada satu pun manusia, walaupun dia seorang Nabi, yang bebas dari penderitaan dan masalah."
Si murid terdiam, mendengarkan.
"Tapi Nak, rasa `asin' dari penderitaan yang dialami itu sangat tergantung dari besarnya 'qalbu'(hati) yang menampungnya. Jadi Nak, supaya tidak merasa menderita, berhentilah jadi gelas. Jadikan qalbu dalam dadamu itu jadi sebesar danau."
Jadi Apapun Kamu........
Menjadi karang-lah, meski tidak mudah. Sebab ia ada‚bukan menahan sengat binar mentari yang garang. Sebab ia ‘kan kukuh halangi deru ombak yang kuat menerpa tanpa kenal lelah. Sebab ia ‘kan melawan bayu yang keras menghembus dan menerpa dengan dingin yang coba membekukan. Sebab ia ‘kan menahan hempas badai yang datang menggerus terus-menerus dan coba melemahkan keteguhannya. Sebab ia ‘kan kokohkan diri agar tak mudah hancur dan terbawa arus.Sebab ia ‘kan berdiri tegak berhari-hari, bertahun-tahun, berabad-abad, tanpa rasa jemu dan bosan.
Menjadi pohon-lah yang tinggi menjulang, meski itu tidak mudah. Sebab ia ‘kan tatap tegar bara mentari yang terus menyala setiap siangnya. Sebab ia ‘kan meliuk halangi angin yang bertiup kasar. Sebab ia ‘kan terus menjejak bumi hadapi gemuruh sang petir. Sebab ia ‘kan hujamkan akar yang kuat untuk menopang. Sebab ia ‘kan menahan gempita hujan yang coba merubuhkan. Sebab ia ‘kan senantiasa berikan bebuahan yang manis dan mengenyangkan. Sebab ia ‘kan berikan tempat bernaung bagi burung-burung yang singgah di dahannya. Sebab ia ‘kan berikan tempat berlindung dengan rindang daun-daunnya.
Menjadi paus-lah, meski itu tak mudah. Sebab dengan sedikit kecipaknya, ia akan menggetarkan ujung samudera. Sebab besar tubuhnya ‘kan menakutkan musuh yang coba mengganggu. Sebab sikap diamnya akan membuat tenang laut dan seisinya.
Menjadi elang-lah, dengan segala kejantanannya, meski itu juga tidak mudah. Sebab ia harus melayang tinggi menembus birunya langit. Sebab ia harus melanglang buana untuk mengenal medannya. Sebab ia harus melawan angin yang menerpa dari segala penjuru. Sebab ia harus mengangkasa jauh tanpa takut jatuh. Sebab ia harus kembali ke sarang dengan makanan di paruhnya. Sebab ia harus menukik tajam mencengkeram mangsa. Sebab ia harus menjelajah cakrawala dengan kepak sayap yang membentang gagah.
Menjadi melati-lah, meski tampak tak bermakna. Sebab ia ‘kan tebar harum wewangian tanpa meminta balasan. Sebab ia begitu putih, seolah tanpa cacat. Sebab ia tak takut hadapi angin dengan mungil tubuhnya. Sebab ia tak ragu hadapi hujan yang membuatnya basah. Sebab ia tak pernah iri melihat mawar yang merekah segar. Sebab ia tak pernah malu pada bunga matahari yang menjulang tinggi. Sebab ia tak pernah rendah diri pada anggrek yang anggun. Sebab ia tak pernah dengki pada tulip yang berwarna-warni. Sebab ia tak gentar layu karena pahami hakikat hidupnya.
Menjadi mutiara-lah, meski itu tak mudah. Sebab ia berada di dasar samudera yang dalam. Sebab ia begitu sulit dijangkau oleh tangan-tangan manusia. Sebab ia begitu berharga. Sebab ia begitu indah dipandang mata. Sebab ia tetap bersinar meski tenggelam di kubangan yang hitam.
Menjadi kupu-kupulah, meski itu tak mudah pula. Sebab ia harus melewati proses-proses sulit sebelum dirinya saat ini. Sebab ia lalui semedi panjang tanpa rasa bosan. Sebab ia bersembunyi dan menahan diri dari segala yang menyenangkan, hingga kemudian tiba saat untuk keluar.
Karang akan hadapi hujan, terik sinar mentari, badai, juga gelombang. Elang akan menembus lapis langit, mengangkasa jauh, melayang tinggi dan tak pernah lelah untuk terus mengembara dengan bentangan sayapnya. Paus akan menggetarkan samudera hanya dengan sedikit gerakan. Pohon akan hadapi petir, deras hujan, silau matahari, namun selalu berusaha menaungi. Melati ikhlas ‘tuk selalu menerima keadaannya, meski tak terhitung pula bunga-bunga lain dengan segala kecantikannya. Kupu-kupu berusaha bertahan, meski saat-saat diam adalah kejenuhan. Mutiara tak memudar kelam, meski pekat lingkungan mengepungnya di kiri-kanan, depan dan belakang.
Tapi karang menjadi kokoh dengan segala ujian. Elang menjadi tangguh, tak hiraukan lelah tatkala terbang melintasi bermilyar kilo bentang cakrawala. Paus menjadi kuat dengan besar tubuhnya dalam luas samudera. Pohon tetap menjadi naungan meski ia hadapi beribu gangguan. Melati menjadi bijak dengan dada yang lapang, dan justru terlihat indah dengan segala kesederhanaan. Mutiara tetap bersinar dimanapun ia terletak, dimanapun ia berada. Kupu-kupu hadapi cerah dunia meskipun lalui perjuangan panjang dalam kesendirian.
Menjadi apapun dirimu, bersyukurlah selalu. Sebab kau yang paling tahu siapa dirimu. Sebab kau yakini kekuatanmu. Sebab kau sadari kelemahanmu.
Jadilah karang yang kokoh, elang yang perkasa, paus yang besar, pohon yang menjulang dengan akar menghujam, melati yang senantiasa mewangi, mutiara yang indah, kupu-kupu, atau apapun yang kau mau. Tapi, tetaplah sadari kehambaanmu.
@ Suhuri Jamil
Menjadi pohon-lah yang tinggi menjulang, meski itu tidak mudah. Sebab ia ‘kan tatap tegar bara mentari yang terus menyala setiap siangnya. Sebab ia ‘kan meliuk halangi angin yang bertiup kasar. Sebab ia ‘kan terus menjejak bumi hadapi gemuruh sang petir. Sebab ia ‘kan hujamkan akar yang kuat untuk menopang. Sebab ia ‘kan menahan gempita hujan yang coba merubuhkan. Sebab ia ‘kan senantiasa berikan bebuahan yang manis dan mengenyangkan. Sebab ia ‘kan berikan tempat bernaung bagi burung-burung yang singgah di dahannya. Sebab ia ‘kan berikan tempat berlindung dengan rindang daun-daunnya.
Menjadi paus-lah, meski itu tak mudah. Sebab dengan sedikit kecipaknya, ia akan menggetarkan ujung samudera. Sebab besar tubuhnya ‘kan menakutkan musuh yang coba mengganggu. Sebab sikap diamnya akan membuat tenang laut dan seisinya.
Menjadi elang-lah, dengan segala kejantanannya, meski itu juga tidak mudah. Sebab ia harus melayang tinggi menembus birunya langit. Sebab ia harus melanglang buana untuk mengenal medannya. Sebab ia harus melawan angin yang menerpa dari segala penjuru. Sebab ia harus mengangkasa jauh tanpa takut jatuh. Sebab ia harus kembali ke sarang dengan makanan di paruhnya. Sebab ia harus menukik tajam mencengkeram mangsa. Sebab ia harus menjelajah cakrawala dengan kepak sayap yang membentang gagah.
Menjadi melati-lah, meski tampak tak bermakna. Sebab ia ‘kan tebar harum wewangian tanpa meminta balasan. Sebab ia begitu putih, seolah tanpa cacat. Sebab ia tak takut hadapi angin dengan mungil tubuhnya. Sebab ia tak ragu hadapi hujan yang membuatnya basah. Sebab ia tak pernah iri melihat mawar yang merekah segar. Sebab ia tak pernah malu pada bunga matahari yang menjulang tinggi. Sebab ia tak pernah rendah diri pada anggrek yang anggun. Sebab ia tak pernah dengki pada tulip yang berwarna-warni. Sebab ia tak gentar layu karena pahami hakikat hidupnya.
Menjadi mutiara-lah, meski itu tak mudah. Sebab ia berada di dasar samudera yang dalam. Sebab ia begitu sulit dijangkau oleh tangan-tangan manusia. Sebab ia begitu berharga. Sebab ia begitu indah dipandang mata. Sebab ia tetap bersinar meski tenggelam di kubangan yang hitam.
Menjadi kupu-kupulah, meski itu tak mudah pula. Sebab ia harus melewati proses-proses sulit sebelum dirinya saat ini. Sebab ia lalui semedi panjang tanpa rasa bosan. Sebab ia bersembunyi dan menahan diri dari segala yang menyenangkan, hingga kemudian tiba saat untuk keluar.
Karang akan hadapi hujan, terik sinar mentari, badai, juga gelombang. Elang akan menembus lapis langit, mengangkasa jauh, melayang tinggi dan tak pernah lelah untuk terus mengembara dengan bentangan sayapnya. Paus akan menggetarkan samudera hanya dengan sedikit gerakan. Pohon akan hadapi petir, deras hujan, silau matahari, namun selalu berusaha menaungi. Melati ikhlas ‘tuk selalu menerima keadaannya, meski tak terhitung pula bunga-bunga lain dengan segala kecantikannya. Kupu-kupu berusaha bertahan, meski saat-saat diam adalah kejenuhan. Mutiara tak memudar kelam, meski pekat lingkungan mengepungnya di kiri-kanan, depan dan belakang.
Tapi karang menjadi kokoh dengan segala ujian. Elang menjadi tangguh, tak hiraukan lelah tatkala terbang melintasi bermilyar kilo bentang cakrawala. Paus menjadi kuat dengan besar tubuhnya dalam luas samudera. Pohon tetap menjadi naungan meski ia hadapi beribu gangguan. Melati menjadi bijak dengan dada yang lapang, dan justru terlihat indah dengan segala kesederhanaan. Mutiara tetap bersinar dimanapun ia terletak, dimanapun ia berada. Kupu-kupu hadapi cerah dunia meskipun lalui perjuangan panjang dalam kesendirian.
Menjadi apapun dirimu, bersyukurlah selalu. Sebab kau yang paling tahu siapa dirimu. Sebab kau yakini kekuatanmu. Sebab kau sadari kelemahanmu.
Jadilah karang yang kokoh, elang yang perkasa, paus yang besar, pohon yang menjulang dengan akar menghujam, melati yang senantiasa mewangi, mutiara yang indah, kupu-kupu, atau apapun yang kau mau. Tapi, tetaplah sadari kehambaanmu.
@ Suhuri Jamil
Jumat, 14 Maret 2008
Apakah benar KIAMAT sudah dekat ?
.gif)
Banyak perbincangan disana-sini tentang tanda-tanda kiamat(akhir dunia, boleh percaya atau tidak memang kenyataan akan seperti itu. Akhir itu pasti ada karena adanya sebuah awal. begitupun kita kita terlahir(awal) dan pasti akan berakhir, mungkin besok, lusa, atau kapanpun yang MAHA BERKEHENDAK mau.
Jadilah Orang Yang "Halal"

Mungkin terdengar aneh dan rancu ketika "orang halal" saya sebutkan di blogger ini, tapi itu semua bukan sebuah kata sederhana saja. dalam halal tersebut terdapat makna yang menurut saya dapat berpengaruh pada diri orang yang ingin menjadi "halal". Maksud "halal" disini bukan boleh dimakan, melainkan bermakna " menjadi orang yang bermanfaat" dimana seorang dirindukan kehadirannya, ditunggu kedatangannya, didoakan kepergiannya.jadilah orang yang halal.
Langganan:
Komentar (Atom)

